Wartawan Republika, Rusdy Nurdiansyah Jadi Dosen Tamu di IISIP Jakarta

0
122

www.depoktren.com–Wartawan Republika, Rusdy Nurdiansyah Jadi Dosen Tamu di IISIP Jakarta, bahas Peluang dan Tantangan Karir di Pers Nasional dalam Seminar Prodi Ilmu Jurnalistik yang berlangsung di Kampus IISIP Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Dalam seminar tersebut juga menghadirkan pembicara, Dosen Ilmu Jurnalistik IISIP Jakarta, Drs Teguh Tjatur Pramono, M.M dan pembicara dari praktisi pers, Didik Suryantoro. Sebagai pegantar Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta, Dr Mulharnetti Syas, M.S.

Dalam seminar tersebut, Rusdy memaparkan, persaingan media massa ditengah serbuan media online dan media sosial (medsos) kian sengit. Media cetak, online, elektronik dan medsos saling menyampailkan informasi tercepat, teraktual dan mendalam untuk menarik perhatian publik. Akibatnya, muncul anggapan persaingan itu akan mematikan media cetak karena gencarnya serbuan pemberitaan media online dan medsos.

“Saya tetap optimistis media cetak, terutama surat kabar harian perannya masih belum tergantikan. Kedalaman dan ketajaman muatan pemberitaan media cetak tidak bisa tergantikan oleh media online,” ujar wartawan senior yang telah malang-melintang di dunia pers Indonesia.

Rusdy menekankan, media online menyampaikan berita secara cepat dan singkat. Sedangkan, koran atau surat kabar menyampaikan berita yang lebih kontekstual, menyampaikan secara terinci, mulai dari awal kejadian suatu peristiwa, penyebabnya, hingga langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi peristiwa itu.

“Untuk mendapat informasi yang cepat melalui media online dan informasi di medsos, tapi untuk informasi dan ulasan yang lebih mendalam, surat kabar masih menjadi pilihan utama. Berita online akan menyampaikan informasi yang bersifat breaking news dan untuk finishing akan disampaikan melalui media cetak,” jelas wartawan yang telah lolos Uji Kompentesi Wartawan (UKW) dari Dewan Pers ini.

Menurut Rusdy, antara media cetak dan online justru harus saling bersinergi untuk menyampaikan informasi yang beragam dan tak akan mematikan karena keduanya memiliki konsep pemberitaan yang berbeda.

“Saat ini perusahaan pers media cetak sudah harus menggembangkan konvergensi media, harus menggembangkan media online dan medsos serta tak menutup kemungkinan juga menggembangkan video atau channel tv,” tutur Rusdy yang berkarir di dunia kewartawanan sejak 1992 ini.

Dia menambahkan, peluang dan karir di pers nasional masih terbuka, namun tantangannya saat ini, wartawan dituntut untuk dapat memiliki skill multimedia atau menguasai lebih dari satu bidang, selain tentu wajib menguasai Ilmu Jurnalistik.

“Para wartawan harus bisa memproduksi multimedia seperti membuat video, mengedit video, fotografi, design, membuat animasi, mengedit audio, dan infografis. Karena berita yang dikemas dengan hasil dari produksi multimedia akan jauh lebih menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat di era digital saat ini,” pungkasnya.

Di kesempatan yang sama, Didik Suryantoro yang juga alumni IISIP Jakarta angkatan 1987 menambahkan pentingnya mahasiswa jurusan Jurnalistik untuk mulai terjun ke lapangan. Mengetahui dunia peliputan sejak dini jauh lebih baik dibanding dengan menunggu saat masa kuliah selesai.

“Persaingan sesungguhnya terjadi di luar sana. Dengan mengikuti perkembangan yang terjadi di luar kampus dan terjun langsung ke lapangan adalah cara belajar paling baik untuk menjadi jurnalis handal,” ungkap Didik.

Lebih jauh Didik juga menegaskan, ibarat membangun sebuah rumah, kampus adalah tempat mengumpulkan bahan-bahan bangunan. Sedangkan terjun ke lapangan dengan melakukan kegiatan jurnalistik adalah bagian dari membangun rumah tersebut.

“Menjadi wartawan yang baik tidak bisa instan dan ujug-ujug ‘jadi’, tetapi harus dimulai dari bawah dan harus mempunyai kondasi yang kuat. Jadi harus melalui proses,” terang Didik yang sejak semester dua di tahun 1988 sudah mulai menjadi wartawan freelance.

Di akhir paparannya, Didik menekankan mahasiswa yang hadir untuk menjadi fakta sebagai sesuatu yang ‘suci’. Fakta, tambah Didik, jangan dimanipulasi.
“Miliki integritas yang tinggi dan jaga integritas tersebut,” tandas Didik. (Agus Hendra/Papi Ipul)

124 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY