Jadi Wartawan Harus Bernyali, Dulu, Kini dan Nanti

0
67

Jadi Wartawan Harus Bernyali,
Dulu, Kini dan Nanti
Oleh: Rusdy Nurdiansyah

Sesuai tema, Peluang dan Tantangan Karir di Pers Nasional. Setiap masa bisa dibilang hampir sama masalahnya, peluang dan tantangan berkarir jadi wartawan.

Latar Belakang

Pers di Era Kolonial (tahun 1744 sampai awal abad 19). Pada mulanya pemerintahan kolonial Belanda menerbitkan surat kabar berbahasa belanda kemudian masyarakat Indo Raya dan Cian juga menerbitkan suratkabar dalam bahasa Belanda, Cina dan bahasa daerah.

Dalam era ini dapat diketahui bahwa Bataviasche Nuvelles en politique Raisonnementen yang terbit pada Agustus 1744 di Batavia (Jakarta) merupakan surat kabar pertama di Indonesia.

Namun pada Juni 1776 surat kabar ini dibredel. Sampai pertengahan abad 19, setidaknya ada 30 surat kabar yang dterbitkan dalam bahasa Belanda, 27 suratkabar berbahasa Indonesia dan satu surat kabar berbahasa Jawa. (Kompasiana: Pers Indonesia dari Masa ke Masa 25 September 2012)

***

Pers di masa Penjajahan Jepang (1942-1945). Pada masa Jepang pers Indonesia tertekan. Surat kabar yang beredar pada zaman penjajahan Belanda dilarang beredar.

Jepang mendirikan Jawa Shinbun Kai dan cabang kantor berita Domei dengan menggabungkan dua kantor berita yang ada di Indonesia yakni Aneta dan Antara.Selama masa ini, terbit beberapa media (harian), yaitu: Asia Raya di Jakarta, Sinar Baru di Semarang, Suara Asia di Surabaya, Tjahaya di Bandung. (Kompasiana: Pers Indonesia dari Masa ke Masa 25 September 2012)

***

Pers dimasa Orde Lama atau Pers Terpimpin (1957-1965). Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden RI menyatakan kembali ke UUD 1945, tindakan tekanan pers terus berlangsung, yaitu pembredelan terhadap kantor berita PIA dan surat kabar Republik, Pedoman, Berita Indonesia, dan Sin Po dilakukan oleh penguasa perang Jakarta.

Awal 1960 penekanan kebebasan pers diawali dengan peringatan Menteri Muda Maladi bahwa “langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat kabar, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita yang tidak menaati peraturan yang diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional”. Masih tahun 1960 penguasa perang mulai mengenakan sanksi-sanksi perizinan terhadap pers.

Tahun 1964 kondisi kebebasan pers makin buruk: digambarkan oleh E.C. Smith dengan mengutip dari Army Handbook bahwa Kementerian Penerangan dan badan-badannya mengontrol semua kegiatan pers. Perubahan ada hampir tidak lebih sekedar perubahan sumber wewenang, karena sensor tetap ketat dan dilakukan secara sepihak.

***

Aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia memperoleh wadah dan wahana yang berlingkup nasional pada tanggal 9 Februari 1946 dengan terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang dibentuk sekelompok aktivis wartawan yakni Sumanang Surjowinoto sebagai Ketua dan Sudarjo Tjokrosisworo sebagai sekretaris serta komisi anggota diataranya, Sjamsuddin Sutan Makmur (Harian Rakjat, Jakarta), B.M. Diah (Merdeka, Jakarta), Abdul Rachmat Nasution (kantor berita Antara, Jakarta),

Kelahiran PWI di tengah kancah perjuangan menjadikan wartawan Indonesia semakin teguh dalam menampilkan dirinya sebagai ujung tombak perjuangan nasional.

Atas perjuangan para wartawan pejuang, pemerintah memberikan penghargaan dengan menjadikan 9 Februari menjadi Hari Pers Nasional bersdasarkan Keputusan Presiden Nomor 5 pada tahun 1985. Keputusan ini menyatakan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Selain itu Dewan Pers kemudian menetapkan Hari
Pers Nasional dilaksanakan setiap tahunnya secara bergantian di ibu kota provinsi se-Indonesia.

Pers di era Demokrasi Pancasila dan awal Orde Baru. Pemerintah sangat menekankan pentingnya pemahaman tentang pers pancasila. Hakikat pers pancasila adalah pers yang sehat, yakni pers yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat dan kontrol sosial yang konstruktif.

***

Saya tak mengalami masa Kemerdekaan, Orde Lama dan awal Orde Baru, tapi saya yakin wartawan itu sebagai wartawan pejuang (pejuang jurnalistik) tentu sangatlah bernyali dan survive dalam menjalankan tugas dan cukup piawai merajut tulisan, diantaranya BM Diah, Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Goenawan Muhammad, Jacob Oetama dan Hoeta Soehoet dan masih banyak lainnya.

Di era Orde Baru hanya terdapat 289 media cetak. Untuk mendirikan media aturannya sangat ketat yang dikontrol pemerintah melalui Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang dikeluarkan oleh Departemen Penerangan. Banyak media saat itu dibredel karena dianggap pemberitaannya meresahkan pengausan Orde Baru, salah satu korbannya adalah Majalah Tempo.

Saat Orde Baru justru banyak bermunculan media kuning (yellow papers) dan media-media hiburan yang sedikit berbau pornografi seperti, Tabloid Film, Lipstik, Dugem, Boss, dll. Pada saat itu bisa dibilang era tabloid.

Pada 1993, koran Republika lahir dan dianggap sebagai bayi ajaib karena koran yang didirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu dianggap sebagai media yang mendapat SIUPP terakhir. Setelah itu pemerintah tidak menggeluarkan SIUPP lagi.

***

Setelah era reformasi kebebasan pers dijamin dalam UU Pokok Pers No 40 Tahun 1999. SIUPP sudah tak berlaku lagi. Bermumculan lah berbagai macam media. setahun setelah reformasi jumlah media cetak melonjak menjadi 1.687 penerbitan (Antaranews, 15/2/2008). Rata-rata, sehari terbit lima media massa baru.

Setelah musim semi, datanglah musim gugur. Ladang subur itu sekaligus kuburan massal. Menurut Dewan Pers (2014), jumlah total media cetak yang terbit di Indonesia tercatat 567 media cetak, selebihnya atau 71 persen sisanya mati alias bangkrut. Kematian media dianggap hal wajar, tak ada yang menangisi. Sejumlah pakar media juga telah meramalkan suatu saat nanti koran, tabloid, dan mungkin majalah diyakini akan punah.

Jika sebelumnya kematian itu banyak pemain baru, kini kematian itu menimpa media-media yang diterbitkan oleh pemain lama dan imperium media seperti Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Dari 60 lebih brand majalah dan tabloid milik KKG, sembilan media di antaranya ditutup: Majalah CHIC, Tabloid Soccer, Majalah Forsel, Majalah Ide Bisnis, Majalah Instyle, Majalah More, Majalah MSLiving, Majalah Fortune Indonesia, dan Digital Eight. Tabloid Bola, pionir media olah raga yang menerbitkan Harian Bola, akhirnya juga ikut menyerah.

Sebelumnya ada Tabloid Prioritas, Koran Jurnal Nasional, Businessweek Indonesia dan Readers Digest Indonesia berhenti terbit. Bloomberg TV Indonesia menghentikan siaran. Koran sore Sinar Harapan mengumumkan penghentian terbit di akhir 2015. Media online seperti Majalah Detik dan Majalah MALE juga menghentikan layanan.

Media memilih gulung tikar, ganti format, atau ‘sekadar’ melakukan efisiensi ekstrem. Koran Suara Merdeka yang terbit di Semarang memangkas halamannya, begitu juga Republika. Koran Tempo mematikan edisi minggunya. Koran Jakarta Globe dan Suara Pembaruan juga terindikasi sakit melihat jumlah iklannya yang minim.

Lengkap sudah kita saksikan satu per satu jenis media tutup, atau setidaknya mengurangi karyawan: mulai dari harian, mingguan, bulanan, sampai TV.

Pasar media cetak makin jatuh sejak era dot-com muncul yang menyebabkan pemasukan menurun. Jumlah pembaca menurun, akibatnya pendapatan iklan juga menurun. Pengiklan tidak lagi memerlukan koran untuk menjangkau target audience, pembaca juga tidak mau lagi membayar untuk mendapatkan berita. Secara global terjadi perubahan perilaku pembaca. Mereka cenderung meninggalkan media mainstream dan lebih memilih media online atau media sosial (Medsos) yang cepat dan gratis.

Akibatnya, jurnalis kehilangan pekerjaannya atau menjadikan pekerjaannya tak lagi sebagai watch dog namun lebih pada upaya meningkatkan search engine optimation (SEO).

Konvergensi media, menggabungkan televisi, radio, dan media cetak dalam media digital, kini banyak dilakukan sebagai terobosan seperti yang dilakukan di Republika, Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Tempo, Bisnis Indonesia, dan Sindo. Bahkan media radio dan televisi juga memikiki media online, seperti RRI, Elshinta, TVRI, dan SCTV.

Para jurnalis dituntut multiskill: bisa menulis, memotret, membuat video dan editing. Seseorang harus dapat menjadi jurnalis, fotografer, videojournalist dan sekaligus editor. Redaktur dikantor berharap karya tulisan wartawannya press clear atau berita sudah jadi, tinggal tugas redaktur menyalurkan berita tersebut ke desk terkait. Di Republika, para wartawan dibawah divisi newsroom.

***

Lantas apa yang harus dilakukan oleh (calon) wartawan? Clay Shirky dalam tulisannya berjudul Last Call: The end of The Printed Newspaper (19/8/2014).

Ada tiga jawaban utama. Pertama, jurnalis harus mampu memahami data dan menyajikannya dengan baik. Kedua, jurnalis harus memahami bagaimana media sosial (medsos) dapat digunakan sebagai alat bantu di ruang redaksi. Ketiga, jurnalis harus mampu membangun kerja sama dalam tim dan dan menghasilkan hal-hal baru.

Bagian pertama banyak dibicarakan di kalangan jurnalisme sebagai jurnalisme data (data journalism). Dengan kata lain, data adalah bagian dari jurnalisme. Berita yang tak lagi baru bisa diolah menjadi liputan khusus yang dilengkapi data berupa tabel atau chart. Intinya, wartawan harus familiar dengan pencarian, pemahaman, dan penyajian data.

Kedua, wartawan harus belajar menggunakan medsos untuk mencari bahan dan sumber berita. Wartawan harus mau melihat percakapan di Facebook dan foto di Instagram untuk mencari ide tulisan; melalui interaksi di Twitter atau WeChat seorang wartawan bisa menemukan sumber kunci atau relawan pemberi informasi. Tapi semua itu wajib terkonfirmasi.

Kapan wartawan punya kesempatan untuk belajar keterampilan-keterampilan baru?. Jawabanya, ya harus terus belajar mengikuti perkembangan zaman, terutama informasi teknologi (IT).

Selama ini pengembangan profesional jurnalis dilakukan melalui penilaian, penawaran desk atau beat baru, atau dikirim keluar untuk pengembangan karir. Di sisi lain, media cetak harus bertarung untuk tetap bisa survive, sehingga tak ada lagi waktu atau sumber daya selain ‘mempertahankan layanan’.

***

Persaingan media massa pada era digital kini kian sengit. Media cetak, elektronik, dan online saling menampilkan informasi tercepat, teraktual dan mendalam untuk menarik perhatian publik. Akibatnya, muncul anggapan persaingan itu akan mematikan media cetak karena gencarnya pemberitaan media online dan elektronik.

Media cetak, yakni koran/surat kabar akan terus hidup. Bahkan, antara media cetak dan online justru akan saling bersinergi untuk menyampaikan informasi yang beragam dan kaya.

Media cetak dan online akan saling bersinergi dan tak akan mematikan karena keduanya memiliki konsep pemberitaan yang berbeda.

Media online menyampaikan berita secara cepat dan singkat. Sedangkan, koran atau surat kabar menyampaikan berita yang lebih kontekstual untuk pembacanya. Misalnya, ketika terjadi sebuah peristiwa, media cetak akan mencoba menyampaikan secara perinci, mulai dari awal kejadian, penyebab, hingga langkah-langkah yang dilakukan untuk mengatasi peristiwa itu.

Karena itu pula, walau ia bisa mendapatkan informasi sebuah peristiwa melalui media online, untuk info yang lebih mendalam, ia tetap membaca koran. Dia pun optimistis, koran atau media cetak tetap sangat dibutuhkan pembaca dan tak akan pernah hilang oleh zaman.

Apalagi, bila media cetak itu mempunyai segmentasi khusus. Seperti Republika yang menyasar komunitas Muslim dan Bisnis Indonesia yang menyasar kalangan pebisnis. Dengan segmentasi seperti itu, lanjutnya, media cetak tersebut akan terus dinantikan masyarakat karena mereka akan mendapatkan wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang sebuah masalah.

Untuk menghadapi ketatnya persaingan media, media cetak dan online harus saling bersinergi. Pada era konvergensi media saat ini, kata dia, perusahaan penerbit surat kabar tak bisa hanya mengandalkan satu media. Misal, hanya koran atau sebatas pada media online. Ya cetak, ya online, harus kedua-duanya. Boleh juga menggabungkannya dengan elektronik.

Contohnya, berita online akan menyampaikan informasi yang bersifat breaking news dan untuk finishing akan disampaikan melalui media cetak.

Koran Republika saat ini sedang fokus mengembangkan media onlinenya yakni Republika.co.id dan Republika TV. Koran Republika ada edisi cetak dan e-paper serta Republika TV dapat di akses di Republika co.id.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Eko Maryadi membenarkan terjadinya lonjakan jumlah unit bisnis media, terutama media online dan TV lokal. Soal media cetak, Eko tetap optimistis flatform media konvensional tersebut masih memiliki masa depan yang baik. “Sampai sekarang, peran media cetak belum tergantikan. Kedalaman dan ketajaman muatan pemberitaan media cetak tidak bisa tergantikan oleh media online,” tuturnya.

***

Wartawan adalah salah satu pekerjaan yang dekat dengan kontroversi dan riskan. Pada zaman revolusi, pekerjaan wartawan hanya berani dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keberanian tinggi. Bahkan, Bung Karno pernah mengungkapkan jika pekerjaan wartawan adalah pekerjaan yang sangat gawat. Pernyataan Bung Karno tersebut terangkum dalam buku ‘Revolusi Belum Selesai’.

Dulu, perjuangan wartawan tak kalah seperti tentara yang berjuang di medan perang. Mulai dari pencarian berita yang rawan pencekalan, hingga perjuangan untuk menerbitkan liputan. Belum lagi peralatan yang digunakan untuk memproduksi berita juga sangat terbatas. Duka menulis di mesin ketik, jika ada kesalahan tidak bisa asal menghapus seperti di komputer. Selain itu, juga tulisan harus menyambung, lebih dari satu kata saja harus dipotong.

Wartawan zaman dahulu harus berpikir untuk mencari cara, agar artikelnya bisa terkirim ke ruang redaksi tepat waktu. Ketika belum ada telegram, telepon, laptop, bahkan internet, sedangkan berita harus segera naik cetak. Maka sudah menjadi hal lumrah, jika ada wartawan yang menenteng mesin ketik ke ruang redaksi. Meski fasilitas sangat terbatas, tetap tidak mengurangi esensi kualitas berita yang dilaporkan. Liputan bencana alam, liputan perang, pencarian jatuhnya pesawat terbang di hutan, dan peristiwa lain yang jauh dari kota, tetap bisa terbit serta dibaca masyarakat luas.

Dilanjutkan dengan seleksi berita melalui refaktur, redaktur pelaksana dan seterusnya sampai ke pimpinan redaksi. Wartawan zaman dulu harus cerdik mengolah peristiwa dan mencari celah apa yang menjadikannya tetap bernilai.

Dibandingkan wartawan zaman dulu, wartawan masa kini jauh lebih baik dalam hal pendidikan dengan mayoritas lulusan perguruan tinggi. Sekarang, segala fasilitas untuk mendukung pekerjaan wartawan sudah banyak tersedia. Di mana pun posisi wartawan berada, bisa melaporkan kejadian begitu cepat ke seluruh penjuru dunia.

Namun, hal yang perlu diingat untuk wartawan masa kini adalah senantiasa menjaga etika jurnalistik. Jangan sampai mengabaikan keakuratan berita. Meski di medsos sudah banyak memberikan informasi, tapi tetap harus mengecek secara cermat kebenaran informasi tersebut dan harus terkonfirmasi. Apalagi jangan sampai wartawan bersedia untuk memberikan informasi yang merugikan atau menguntungkan (setting berita) pihak tertentu.

Nah, saat ini cukup banyak wartawan ‘settingan’ mendapatkan keutungan untuk kepetingan yang meng order. Bahkan, ikut-ikutan memproduksi hoax. Jadi wartawan yang partisan harus dihindarkan. Cepat atau lambat, wartawan partisan tak bertahan lama di dunia jurnalis. Menjadi wartawan itu harus dijiwai, harus profesional yang menjujung tinggi kode etik pers serta mengutamakan kepetingan masyarakat serta senantiasa menyajikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat bukan yang menyesatkan.

Menjadi seorang jurnalis bukan hanya dibutuhkan kecerdasan, kecakapan mengolah informasi, dan keberanian. Tapi juga harus terbuka dengan hal-hal baru, termasuk teknologi untuk mendukung liputan dan mengirim karya jurnalistik.

Perkembangan teknologi sekarang memang pesat. Jika zaman dulu orang mengetik dengan mesin dan mengirimnya lewat perantara kurir, sekarang jurnalis bisa langsung melaporkan peristiwa yang diliputnya dari lapangan hanya dengan bermodal smart phone atau telepon pintar atau gadget.

***

Pengalaman saya menjadi pewarta sejak era mesin tik, laptop hingga era smart phone.

Saya mengawali karir di dunia jurnalis saat masih dibangku kuliah di IISIP Jakarta, semester 7 pada 1990, walau hanya sebatas penulis lepas di Tabloid Tribun Olahraga dan Mutiara. Pada 1991-1992, saya menjadi reporter Majalah Property Info Papan.

Usai lulus kuliah, saya mulai mengawali karir jurnalis di Republika pada 1993 sebagai Riset Foto. Tugas menyediakan foto yang dibutuhkan serta pendokumentasian foto. Kemudian saya naik jabatan menjadi fotografer pada 1998-2003. Peristiwa kerusuhan 1998, liputan ke Nusakambangan, Pemberotakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi liputan yang mencekam yang pernah saya alami.

Pada 2003, saya berpidah posisi menjadi reporter hingga sekarang. Beberapa liputan yang cukup menantang diantaranya, liputan Tsunami Aceh 2004, liputan Pilkada Depok 2005, liputan ke perbatasan Mesir-Palestina 2006, Keliling Asia 2007, liputan ke perbatasan Indonesia-Malaysia di Etikong Kalimantan 2010 serta liputan dunia malam dan kriminal.

Saat menjadi wartawan, saya mengalami menggunakan fasilitas penunjang seperi tape recorder tangan dan kaset untuk merekam saat wawancara. Dari tape recorder tangan yang besar, lalu beralih ke tape recorder berukuran kecil dengan kaset kecil berlanjut menggunakan flash disc untuk merekam dan menyimpan data.

Saya juga menggunakan kamera manual Nikon FM2 F4, F5, menggunakan film, mencuci sendiri film menjadi negatif film lalu diproses menjadi cetakan foto. Proses berlanjut, foto di scan untuk naik cetak koran. Setelah itu, saya menggunakan kamera digital Nikon dan laptop yang saya bawa saat meliput.

Warung telepon (wartel) dan warung internet (warnet) menjadi tempat favorit nongrongnya para wartawan untuk menulis dan mengirim berita dan foto.

Saat ini, saya cuma bawa satu smart phone saja yang bisa diigunakan untuk semua, ya mengetik berita, merekam wawancara, untuk foto, video dan menyimpan data. Luar biasa, saat ini semuanya bisa dilakukan dengan hanya satu genggaman tangan saja. Jurnalis sekarang lebih praktis tapi dituntut ritme bekerja serba cepat.

Uji Kompetensi Wartawan Dewan Pers

zaman dulu, jumlah wartawan tidak sebanyak sekarang, organisasi pers juga cuma PWI. Saat ini semua orang bisa dan mengaku jadi wartawan. Tukang tambal ban, sopir angkot, debt collector, aktivis LSM beralih profesi menjadi wartawan. Tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang jurnalistik sudah bukan jadi patokan lagi. Organisasi pers bermuculan bak jamur.

Bermunculan ribuan media online dan kebebasan pers menjadi penyebabnya. Dampaknya betebaran berita-berita tak berkualitas, berita ancaman, berita memeras dan bahkan berita hoax. Kode etik pers pun seakan tak berlaku lagi. Pemerintah dinilai gagal mengtisipasi perkembang informasi teknologi (IT) yang begitu cepat.

Dewan Pers memperkirakan, jumlah media online saat ini mencapai 43 ribu lebih.
Dari jumlah tersebut hanya sekitar 0,04 persen yang layak disebut profesional jurnalistik atau yang memenuhi syarat disebut perusahaan pers dan profesional baru berjumlah 168 perusahaan pers.

Hal itu yang membuat keprihatinan Dewan Pers dan para wartawan profesional yang mengambil langkah melakukan proses verifikasi faktual perusahaan pers, organisasi wartawan dan uji kompentensi wartawan (UKW) yang dilakukan sejak 2015 dan diharapkan selesai pada akhir 2019 ini.

Untuk verifikasi organisasi wartawan sudah tiga yang ditetapkan. Untuk wartawan media cetak yakni PWI dan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Untuk wartawan media elektronik yakni Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Untuk wartawan media online belum ditetapkan masih dalam proses verifikasi.

Apa yang dilakukan Dewan Pers mendapat dukungan para wartawan profesional yang berharap kembalinya marwah pers yang profesional, kebebasan pers yang bertanggungjawab dan menjujung tinggi kode etik pers.

Kesimpulan

Jurnalis di masa depan dituntut untuk dapat memiliki skill multimedia atau menguasai lebih dari satu bidang.

Para jurnalis harus bisa memproduksi multimedia seperti membuat video, mengedit video, fotografi, design, membuat animasi, mengedit audio, dan infografis. Karena berita yang dikemas dengan hasil dari produksi multimedia akan jauh lebih menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat di era digital.

Selain itu, para wartawan selain wajib menguasai ilmu jurnalistik juga harus menguasai beragam ilmu pengetahuan atau minimal mengetahui ilmu ekonomi, politik, sosial, budaya dan teknologi.

Masalah intimidasi, ancaman, dan teror, hampir sama dialami para wartawan dulu, saat ini dan nanti. Tapi semua harus dihadapi. Jadi wartawan harus bernyali.

Kematian sebuah koran menyedihkan, tapi ancaman hilangnya SDM jurnalis adalah bencana. Sebagai (calon) wartawan, saatnya Anda belajar mandiri; belajar sesuatu di luar rutinitas pekerjaan Anda saat ini.

Bisa jadi ini akan sulit. Redaktur tak akan banyak membantu, tapi jika dilakukan, ini bisa merupakan lompatan besar. Melakukan sesuatu akan lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Jika tidak, Anda tidak akan berhasil dalam persaingan jurnalisme.

Rusdy Nurdiansyah
Wartawan Senior Republika

Makalah ini disampaikan dalam Seminar Ilmu Jurnalistik, Tema: “Peluang dan Tantangan karir di Pers Nasional” di Kampus IISIP Jakarta, Jumat 17 Mei 2019

Daftar sumber:

1. Kompasiana: Pers Indonesia dari Masa ke Masa (2012)
2. Antaranews, (15/2/2008).
3. Betnas.id: Tantangan dan Peluang Media dan Jurnalis (2014)
4. Republika.co.id: Tantangan Media Cetak pada Era Digital (2016)
5. Buku Data Pers 2015 (Dewan Pers)

Biodata

Nama: Rusdy Nurdiansyah
Pekerjaan : Wartawan Republika
Tempat Tanggal Lahir :
Banda Aceh 1 Agustus 1967
Pendidikan:
S1 Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta (1987-1991)

Pengalaman Kerja:
1. Wartawan Info Papan (1992-1993)
2. Wartawan Republika (1993-sampai sekarang)
3. Konsultan Media Online depoktren.com (2012-sampai Sekarang)

Karya Buku:
1. Aceh Loen Sayang (2005)
2. Depok Membangun Asa (2006)
3. Kumpulan Tulisan Pengalaman Wartawan Republika (2010)

Pengalaman Tugas Jurnalistik di Republika:
1. Liputan Kerusuhan Mei 98 (1998)
2. Liputan Darurat Militer di Aceh dan Tsunami Aceh (2002-2004)
3. Liputan backpacker Indonesia-Tibet, Cina (2006)
4. Liputan ke perbatasan Mesir-Palestina (2007)
5. Liputan Tokyo Motor Show (2011)

Organisasi:
1. Pelaksana Harian Humas ICMI Pusat (1993-1994)
2. Pendiri dan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Depok (2004-2005)
3. Ketua Depok Media Center (DMC) (2010-2015)
3. Ketua Pembina DMC (2015-sampai sekarang)
4. Anggota PWI Depok (2016-sampai sekarang)
5. Wartawan Madya Dewan Pers (2017 sampai sekarang)

70 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY