Dahlan: Jangan ‘Alergi’ Ngomongin Sejarah Depok

0
182

www.depoktren.com-Baru kemarin kepengurusan KOOD dikukuhkan, percakapan di media sosial, terutama di facebook, sudah ramai mendiskusikan beragam versi sejarah tentang Depok.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD), H Ahmad Dahlan, mengaku bangga dan tersanjung. Pasalnya, selama ini sangat jarang warga Depok yang membicarakan apalagi mendiskusikan akar sejarah kotanya.

“Justru saya bangga mulai banyak yang ingin mencari tahu sejarah Depok yang sesungguhnya. Memang seharusnya begitu, jangan alergi ngomongin sejarah. Biarkan aja mereka berdiskusi, itu sebagai wujud kecintaan mereka terhadap Depok,” kata Dahlan kepada depoktren.com, Senin (24/12/2018).

“Nanti kita cari moment untuk mengumpulkan mereka dalam event diskusi yang skalanya lebih besar, tidak hanya di medsos. Kita akan gelar seminar membedah sejarah Depok,” katanya lagi.

Diungkap Dahlan, di organisasinya cukup banyak tokoh dan sepuh yang memahami dan memiliki data-data tentang sejarah Depok tempo doeloe.

“Selain fokus mengurusi seni, budaya dan bahasa, KOOD juga akan menggali sejarah Depok yang sesungguhnya. InsyaAllah kita akan bentuk tim khusus sejarah,” demikian Dahlan.

Tak Menyalahkan Versi YLCC
Sebelumnya Wakil Ketua Umum KOOD, Jamhurobi, mengatakan bahwa selama ini publik hanya disuguhkan paparan sejarah Depok versi komunitas Cornelis Chastelein yang tergabung dalam Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC).

Meski tidak menyalahkan versi tersebut, namun Jamhurobi tidak sepenuhnya membenarkan. Pasalnya, sejarah Depok yang diriwayatkan oleh YLCC tidak seutuhnya mengisahkan Depok masa lampau, sebelum hadirnya Cornelis Chastelein di pinggiran tanah Pasundan ini.

“Saat Cornelis menginjakkan kakinya di tanah ini (1675), Depok dikesankan sebagai wilayah kosong tidak berpenghuni. Cornelis, pasukannya dan para budaknya (12 marga) mengklaim sebagai penduduk pertama yang menghuni tanah ini,” kata Jamhur, sapaan akrabnya.

Padahal menurut dia, saat itu Cornelis dan para anak buahnya berinteraksi langsung dengan masyarakat pribumi, bahkan cukup banyak yang dipekerjakan untuk mengelola lahan-lahan pertanian dan persawahan miliknya.

Dia menambahkan, sebelum kehadiran Cornelis, wilayah inipun sudah bernama Depok.
“Sejak dulu namanya Depok, asal kata dari Padepokan. Orang-orang Depok memang suka mempersingkat kata-kata, Padepokan diringkes jadi Depok,” ucap Jamhur.

Dia merasa perlu menjelaskan hal tersebut karena adapula yang menyebutkan bahwa asal-kata Depok berasal dari nama Padepokan Kristiani (De Eerste Protestante Organisatie van Christenen). Bahkan ada yang mengakronimkan De Eerste Protestants Onderdaan Kerk, artinya Gereja Kristen Rakyat Pertama.

Secara pribadi, Jamhurobi lebih mempercayai temuan sejarah versi lain, yang menyebutkan bahwa wilayah Depok dan sekitarnya telah berpenghuni sejak zaman prasejarah. Sebagai buktinya, ditemukan Menhir ‘Gagang Golok’, Punden Berundak ‘Sumur Bandung’, Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit.

Didasarkan rasa penasarannya itu, Jamhurobi mengaku siap dilibatkan dalam tim penggali sejarah Depok yang akan dibentuk oleh organisasinya.(amr)

182 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY