Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak Sejak Dini

0
38

www.depoktren.com–Gadget kini menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat, seiring dengan pesatnya tekhnologi internet.

Namun, ternyata hal tersebut juga membawa dampak buruk salah satunya adalah kecanduan akan smartphone terutama di kalangan anak – anak.

Atas kekhawatiran tersebut, Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia mengadakan kampanye sosial mengenai “Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak Sejak Dini”.

Henny S. Widyaningsih, dosen Ilmu Komunikasi yang juga Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UI menuturkan kampanye tersebut difokuskan kepada Ibu dan anak.

“Alasan perempuan (khususnya perempuan yang telah memiliki anak) difokuskan pada kegiatan ini adalah, agar mereka mampu berdaya mengawasi, menganjurkan, mendidik anak-anaknya sehingga mau melakukan kegiatan fisik agar tidak melulu tergantung pada gadget,” ujar Heny di kantor Kelurahan Kukusan, Depok, Kamis (16/8/2018).

Henny menuturkan, Topik kampanye sosial ini diakuinya sengaja dipilih melihat keprihatinan kondisi teknologi komunikasi melalui gadget bagaikan pisau bermata dua yaitu di satu sisi sangat bermanfaat tapi di sisi lain juga memiliki dampak negatif, terutama pada anak-anak usia dini.

“Pola Komunikasi pun saat ini sudah bergeser dari yang selalu dialogis tatap muka menjadi lebih individual,” bebernya.

Sehingga, menurutnya kegiatan tersebut dibagi menjadi dua sasaran yaitu Ibu dan anak. Heny menerangkan, para ibu diberikan talkshow dengan dua materi yakni Gadget dan Dampaknya bagi Anak, dan Upaya Pencegahan akibat Kecanduan Gadget pada Anak.

Sementara itu anak-anak yang berusia 5-10 tahun dikenalkan dan diajak bermain permainan tradisional dan lomba (susun puzzle dan mewarnai).

“Ibu-ibu harus waspada ketika anak menolak melakukan rutinitas sehari-hari dan lebih memilih gadget. Ini salah satu tanda aditif,” katanya.

Selanjutnya, Heny menegaskan salah satu tanda kecanduan gadget pada anak, adalah menurunnya keinginan untuk bermain dan bergaul dengan anak lain.

Sementara itu Meily Badriati, dosen dan mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi UI mengatakan pihaknya mencoba menularkan pengalaman bermain dengan rekan sebaya.

Oleh sebab itu, pihaknya menghadirkan berbagai permainan tradisional kepada anak – anak yang mengikuti kegiatan tersebut seperti congklak, ular tangga, galasin dan bermain mewarnai bersama anak

“Anak-anak diharapkan bisa merasakan pengalaman sensori dan motorik dari kegiatan ini sehingga mereka bisa merasakan sensasi asyiknya. Diharapkan mereka bisa mengulang asyiknya pengalaman ini pada waktu yang lain,” pungkasnya.
[16/8 14.03] Octa Dwi Sutrisno: Depok – Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP DPRM UI, Henny S Widyaningsih mengatakan kecanduan akan gadget (smartphone), pada anak menyebabkan kerusakan pada saraf otak

Menurutnya, ketika anak dari awal sudah dikenalkan dengan gadget maka nantinya akan menggandrungi seakan tidak mau lepas, bila diganggu (diambil) maka akan marah. Hal tersebut, sudah masuk dalam tahap depresi.

“Ketika tahap tersebut (Depresi), anak akan kecanduan lalu mengganggu saraf setelah itu, bila ditangani oleh dokter maka akan diberi obat penenang. Bisa dibayangkan, bila generasi muda kita harus mengkonsumsi itu hanya karena masalah gadget,” ungkap Heny di Kantor Kelurahan Kukusan, Kota Depok Kamis 16 Agustus 2018.

Namun Heny mengakui, kemajuan tekhnologi tidak dapat ditahan hingga akhirnya, mau tidak mau orang tua juga harus mengenalkan gadget kepada anak namun dengan cara bertahap.

“Jadi ini ada aturannya, untuk anak berumur 0 – 2 tahun jangan diperkenalkan (gadget), 2 – 4 tahun boleh tapi harus didampingi, nah umur 4 – 6 tahun orang tua harus menjadwalkan penggunaan gadget kepada anak tidak boleh diberikan setiap waktu,” katanya.

Selanjutnya, untuk mengatasi kecanduan gadget kepada anak pola komunikasi keluarga juga harus tetap dihidupkan oleh sebab itu, dalam kegiatan “kampanye Sosial Mencegah Kecanduan Gadget Pada Anak Sejak Dini”, pihaknya menerapkan beberapa ilmu kepada orang tua.

“Kita coba terapkan ilmu kita contohnya, kita membuat waktu satu point delapan delapan jam. Jadi kita boleh tinggalkan anak, namun satu jam kita harus luangkan waktu dengan anak tanpa gadget,” tandasnya.

Selain itu, masih menurut Heny orang tua juga harus bisa mengalihkan perhatian anaknya agar tidak terus menerus bermain dengan gadget.

“Kita berikan pemahaman mengenai tehnik komunikasi dengan anak, disini orang tua harus mengerti keinginan anak. Contoh mewarnai gambar robot yang sudah diprint bersama – sama ini untuk mengembangkan saraf sensorik dan motorik,” pungkasnya.

Heny menegaskan yang terpenting dari semuanya, bagaimana orang tua berperan agar anak tidak pasif dan akhirnya bergantung dengan gadgetnya.

“Jangan, apa – apa harus menggunakan bantuan gadget sampai anak harus berteman dengan seseorang di dunia maya sekarang kan banyak anak yang kenal dengan orang lain, tanpa bertemu di dunia Maya,” tuturnya. (Octa)

38 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY