Pemblokiran Aplikasi Tik Tok, Ini Kata Lembaga Perlindungan Anak Generasi

0
75

www.depoktren.com–Aplikasi mobile Tik Tok resmi diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) pada Selasa 3 Juli 2018. Adapun Pemblokiran didasari hasil pemantau Tim AIS Kominfo, pelaporan dari Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan laporan masyarakat.

“Pemblokiran yang dilakukan pemerintah terhadap aplikasi yang memuat konten negatif adalah sebuah keharusan. Tidak hanya terhadap aplikasi Tik Tok , namun juga terhadap aplikasi lain yang memuat konten negatif,” ujar Ketua Lembaga Perlindungan Anak Generasi, Ena Nurjanah dalam siaran pers, Jumat (6/7/2018).

Menurut Ena, pemerintah memiliki tanggung jawab melindungi anak Indonesia dari berbagai bentuk pelanggaran terhadap hak-haknya. Anak-anak Indonesia harus tumbuh secara sehat, cerdas dan berahlak mulia. Anak-anak adalah cikal bakal penerus negeri ini yang harus dijaga agar Indonesia tetap berjaya dengan generasi penerusnya yang berkualitas dan kompeten.

“Para orangtua maupun pendidik harus membekali anak-anak dan remaja dengan pemahaman yang cukup tentang etika moral, sosial dan dampak pelanggaran hukum. Tentu saja, penyampaiannya harus disesuaikan dengan tahapan usianya. Sehingga diharapkan nantinya anak-anak dan remaja lebih bijak dalam mengekspersikan dirinya melalui berbagai aplikasi video,” jelasnya.

Ena menuturkan, Tik tok merupakan aplikasi video musik 15 detik dan jejaring sosial asal Tiongkok. Tik Tok menjadikan ponsel pengguna laksana studio berjalan. Aplikasi ini dilengkapi special effects yang menarik. Para pengguna dapat lebih mengembangkan bakatnya dan membuka dunia tanpa batas hanya dengan memasuki perpustakaan musik lengkap Tik Tok. 

Aplikasi Tik Tok membuat pengguna secara cepat dan mudah membuat video-video pendek yang unik dan keren untuk kemudian dibagikan ke teman-teman dan dunia. 

“Melihat ide dari aplikasi Tik Tok sebenarnya cukup bagus, karena bisa memunculkan banyak kreativitas dari para anak muda. Memberi ruang bagi munculnya bakat-bakat terpendam anak muda yang selama ini tidak memiliki sarana yang mudah dan murah untuk menuangkan bakatnya,” tuturnya.

Hanya saja, lanjut dia, sangat disayangkan aplikasi ini tidak memiliki filter terhadap konten-konten negatif seperti filter terhadap isue SARA, pornografi, asusila, pelecehan agama dan konten negatif lainnya. “Tik Tok juga tidak memiliki tim monitoring terhadap aplikasi mereka,” terang Ena.

Aplikasi Tik Tok beredar di Indonesia sejak september 2017. Perkembangan aplikasi Tik Tok sangat pesat hingga menempati urutan teratas untuk diunggah. 

“Keberadaan Tik Tok begitu mudah diterima oleh remaja atau anak muda. Keberhasilan Tik Tok menggaet remaja karena menyentuh aspek yang sangat didambakan kaum muda yaitu pencarian jati diri. Tik Tok menyodorkan konsep mudah tentang bagaimana kamu menunjukkan kepribadianmu “release your peronality!”,” jelas Ena.

Dia memaparkan, Tik Tok memoles aplikasinya sedemikian rupa sehingga mampu menjadikan para pengguna tampak cantik, ganteng dalam sekejap. Sesuatu yang sangat didambakan oleh anak muda sekarang sebagai dampak gencarnya iklan tentang stereotype cantik dan ganteng. 

Dalam perkembangannya, ternyata Ide pembuatan video melalui aplikasi Tik Tok menjadi kebablasan, melanggar kode etik moral, kesusilaan maupun hukum. Demi untuk meraih popularitas dan pengakuan akan eksistensi dirinya dari para netizen .

“Fenomena inilah yang seharusnya bisa diwaspadai oleh para pembuat aplikasi dan juga pemerintah ketika mengizinkan suatu aplikasi beroperasi di tanah air,” tegasnya.

Ena menambahkan, anak-anak harus tetap mendapat perlindungan dan pengawasan. Anak-anak milenial sekarang begitu mudah menerima sesuatu yang baru dari dunia digital dan mereka menjadi sangat kreatif. 

“Namun demikian, anak muda harus tetap mendapat bimbingan, arahan dan juga pengawasan. Kemudahan membuat video dan mengunggahnya menjadi satu hal yang sangat rawan ketika tidak diimbangi dengan pemahaman yang benar akan etika moral, sosial dan aturan hukum yang berlaku,” pungkas Ena.

Dirjen Aplikasi dan Informatika Kementerian Kominfo, Semuel Aprijani Pangerapan mengatakan, pemblokiran aplikasi Tik Tok bersifat sementara hingga pemilik aplikasi tersebut memenuhi persyaratan yang diajukan oleh kemenkominfo yaitu dengan menghapus konten negatif, menyediakan tim monitoring dan keberadaan tim monitoring di Indonesia.

“Aplikasi mobile Tik Tok menjadi sorotan ketika para penggunanya menjadi sangat bebas tanpa batas dalam mengaplikasikan ide-ide mereka melalui video,” kata Semuel.

Dia mencotohkan, beberapa tayangan yang tidak pantas yang kemudian viral, seperti seorang remaja merekam video dengan lagu dan gerakan tangan di depan jenazah, kemudian ada video orang dewasa yang mempermainkan solat, dan yang terbaru video seorang bidan yang mempermainkan wajah bayi untuk hiburan.

“Pemblokiran aplikasi Tik Tok memunculkan dua kubu yang setuju dan yang tidak setuju,” ungkapnya.

Yang setuju, terang Semuel, pemblokiran mengatakan bahwa aplikasi tersebut pantas di blokir karena banyak memuat konten yang tidak penting, pembodohan, menjadikan anak muda generasi alay atau bahkan banyak yang negatif.

Yang tidak setuju dengan pemblokiran mengatakan bahwa aplikasi Tik Tok merupakan sarana mengekspresikan diri dan hanya untuk senang-senang mengapa harus ditutup. Kesalah ada pada pengguna yang membuat video dengan konten pornografi, asusila atau negatif lainnya, mengapa harus aplikasinya yang di blokir. (Riki Satura)

75 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY