Keluh Kesah Seorang Pilot yang Merasa Dizalimi Dua Mantan Istri

0
74

www.depoktren.com–Pilot maskapai penerbangan nasional Eko PS mengaku merasa dizalimi dua mantan istrinya, yakni ADW alias Dewi dan ABN alias Ayu.

Khusus untuk Dewi yang dalam perkawinannya dikaruniai dua anak, G dan A, sang pilot merasa berat hati untuk bertemu dengan kedua anak kandungnya itu.

“Gimana saya nggak sakit hati, waktu saya dimintai keterangan di Polres Depok soal dugaan penelantaran anak, saya baca keterangan anak saya G mau memenjarakan saya dan A mau melempar muka saya pakai sandal. Itu lembaran negara yang tidak bisa dihapus.

Untuk itu pula saya sewaktu menceraikan Dewi tidak membeberkan alasan yang sebenarnya karena ini merupakan aib untuk Dewi, karena kalau perbuatannya saya beberkan di Pengadilan Agama (PA) Cibinong, suatu saat nanti anaknya akan membaca dan mengetahui perbuatan ibunya yang sebenarnya kenapa saya gugat cerai, yang menjadi pertimbangan saya saat itu adalah agar anak-anak itu tetap hormat kepada ibunya,” ujar Eko kepada wartawan 10 April 2018 lalu.

Eko memaparkan, selama kasus ini bergulir Dewi selalu menjadikan dua anaknya itu sebagai alat dan selalu dibawa ke mana-mana untuk menjelek-jelekan dan membunuh karakter Eko.

“Apakah dia ingin menghancurkan karier dan kehidupan saya? Mereka selalu menceritakan dan memfitnah saya kemana-mana seolah-olah saya ini tidak ada bagus-bagusnya sebagai manusia. Padahal justru terbalik, saya memiliki bukti tertulis yang notarial saksi dari suami Dewi yang sekarang yang menyatakan antara Ayu dan Dewi bersengkongkol ingin menghancurkan saya dengan sebutan kabinet mantan istri bersatu, bukti tersebut menjadi salah satu bukti yang meringankan saya di Polres Depok saat itu sehingga laporan Dewi soal dugaan penelantaran anak di-SP3 yang anehnya dalam laporan tersebut Ayu jadi saksi Dewi. Aneh kan?” tutur Eko.

Bahkan, Eko mendapatkan informasi bahwa saat Dewi melapor ke KPAI dengan tuduhan menelantarkan anak ternyata hanya skenario dengan cara memarkir mobilnya di RSUD Pasar Rebo.

“Setelah itu Dewi mengganti baju dua anak itu dengan pakaian lusuh untuk melapor ke Arist Merdeka Sirait, yang mengejutkan lagi hal tersebut dibenarkan oleh sekretarisnya Pak Arist. Dewi terbukti memanipulasi kondisi anak saya yang sebenarnya,” ungkap Eko.

Eko juga mengungkapkan bahwa selama ini nafkah untuk A dan G sudah dipenuhi dengan dipotong gaji setiap bulan sebesar Rp 6 juta sejak 2013 hingga hari ini. Sementara soal gugatan nafkah di tahun 2002 hingga 2013.

Eko mengaku bahwa sebenarnya kasus dugaan penelantaran anak tersebut di Polres Depok sudah dihentikan proses penyidikannya karena tidak memenuhi unsur dugaan penelantaran anak.

Pilot senior ini menambahkan bahwa sepanjang 2002-2008 setelah bercerai dengan Dewi, Eko menikah dengan Ayu karena pendekatan dari pengacaranya yang juga kakak kandung Ayu.

Selama pernikahan itu, Eko sering bertemu dengan G dan A di rumahnya di Limo dan Alam Sutra.

“Sepanjang 2002-2008, saya tetap berkomunikasi dengan G dan A karena Dewi tetap membawa anaknya bertemu saya di Limo. Tidak hanya nafkah yang saya berikan kepada mereka berdua, biaya kesehatan dan pendidikan tetap saya berikan. Kehidupan saya normal seperti layaknya keluarga, karena anak tetap bisa bertemu saya dan saat itu saya menyuapi, memandikan, mengajak jalan-jalan mereka. Ya seperti keluarga normal pada umumnya bersama anak saya sendiri. Saya justru kaget setelah saya bercerai dengan Ayu malah ada laporan polisi dengan tuduhan saya menelantarkan anak saya. Ini sangat aneh,” ungkap Eko sambil menahan emosinya.

Eko bercerita, setelah saya bercerai dengan Dewi saya menikah dengan Ayu. “Harusnya gugatan hak nafkah anak dan jaminan sitaan rumah itu bukan dari pernikahan saya dengan Tina, tapi harusnya saat saya bersama Ayu. Pekerjaan saya sebagai penerbang sering membuat saya tidak ada di rumah maka seluruh kepengurusan rumahtangga saya serahkan semuanya kepada Ayu, termasuk memberikan nafkah kepada anak-anak saya,” paparnya.

Eko juga merasa persekongkolan antara Dewi dan Ayu untuk merongrong dirinya terus dilakukan karena setiap ada laporan polisi dan ke pengadilan yang dilakukan Dewi, saksi yang disodorkan selalu Ayu. Padahal harusnya Ayu yang membayarkan nafkah G dan A karena semua gajinya selalu diserahkan dan dikelola oleh Ayu.

“Ayu itu mastermind nya dan di belakang Ayu ada kakaknya yang dulu menjadi pengacara saya,” mas bisa baca di testimoni tertulis notarial suami Dewi,” terangnya.

Terpisah, Dewi membantah bahwa kedua anaknya memberi keterangan yang menyakitkan hati ayahnya dalam laporan polisi.

“Nggak ada itu mas. Itu karangan Eko saja karena dia nggak mau menafkahi anaknya sendiri. Kalau memang begitu mana bukti BAP nya,” kata Dewi kepada wartawan, sebelum bersidang di PA Cibinong, Selasa 3 April 2018 lalu.

Dewi tetap bersikukuh bahwa nafkah G dan A sejak 2002-2013 belum diberikan meski dirinya mengakui sudah menikah lagi.

Dewi juga mengakui bahwa dirinya telah menerima nafkah dari gaji Eko yang dipotong oleh perusahaan sebesar Rp 6 juta per bulan sejak 2013 hingga hari ini.

“Kalau nafkah anak dari 2013 memang sudah dipotong dan saya terima. Itu sih nggak masalah, yang jadi masalah adalah nafkah sejak 2002-2013 yang belum ada sesuai putusan penetapan di PA Cibinong,” tegas Dewi.

Dewi menolak memberi keterangan saat dikonfirmasi soal permintaan nafkah kepada Ayu dalam rentang tahun 2002-2013. “Kalau yang itu saya nggak mau komentar,” ucapnya.

Sementara Ayu yang ditemui wartawan bersama dengan Dewi, menolak namanya dikutip sebagai bahan keterangan pemberitaan.

Padahal keterangan Ayu yang sebenarnya adalah keterangan kunci yang dapat membuat kasus ini menjadi terang benderang. Justru sebaliknya Ayu malah ingin melaporkan wartawan yang menulis nama dirinya di setiap berita yang diturunkan.

“Saya laporkan ke Polda Metro Jaya karena Anda sudah merugikan saya,” ancam Ayu melalui pesan sosial media kepada wartawan.

Ancaman itu juga dilontarkan Ayu kepada wartawan lain yang terdeteksi telah menyebut namanya dalam berita. (Her/Rus)

74 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY