Ini Kisah Siswi SMA Jual Keperawanan di Tangerang

0
618

www.depoktren.com–Sangat disayangkan nasib yang dialami siswi cantik sebuah SMA negeri di Tangerang ini. Ia terpaksa menjual keperawanan demi membayar utang. Sungguh ironis perbuatan terlarangnya itu ia lakukan saat baru saja mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK).

Ini kisahnya, udara malam saat itu cukup dingin, setelah hujan mengguyur sejak sore.

Di sebuah meja kecil di pelataran sebuah minimarket terkenal, seorang gadis tampak asik memainkan ponsel.

Beberapa kali dia mengarahkan layar ponsel ke depan wajahnya. Rupanya, gadis itu sedang selfie.

Kepada TribunJakarta.com, gadis tersebut memperkenalkan namanya. Cukup indah nama asli gadis bertubuh tinggi semampai itu.

Namun, sebelum berbincang, gadis itu minta agar nama aslinya tidak dipublikasikan.

“Pakai nama samaran saja kak, biar keluarga saya tidak tahu soal ini,” katanya, Senin (9/4/2018).

Sebut saja namanya Amelia yang saat ini sekolah di sebuah SMA negeri di daerah Ciledug, Tangerang. “Saya kelas 12, hari ini baru ujian nasional hari pertama,” ujarnya.

Sambil berbincang, gadis itu mulai bercerita soal kehidupan pribadinya. “Hari ini kehidupan pribadi saya hancur. Saya enggak punya pilihan lain kak,” ucapnya pelan.

Dengan suara tersendat, Amelia bercerita kalau dia terpaksa harus ‘menjual’ keperawanannya ke seorang pria yang baru dikenalnya lewat media sosial. Pria yang berstatus mahasiswa itu dikenalnya lewat fitur people nearby Line. “Kenalan langsung tembak aja deh,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Amelia bercerita, dia menjual keperawanannya seharga Rp 1,5 juta kepada mahasiswa tersebut.

Ini dilakukan karena Amelia membutuhkan uang untuk mengganti uang kegiatan sekolahnya yang hilang.

“Saya dituduh mencuri uang itu, padahal saya sama sekali tidak melakukannnya. Saya bingung harus nyari uang kemana, terpaksa saya lakukan ini,” katanya.

Sepintas tidak tampak kalau Amelia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tubuhnya yang tinggi membuat Amelia seperti anak kuliahan.

Malam itu, Amelia memakai kaus tangan panjang warna kuning menenteng sebuah tas kecil.

Saat ditanya apakah perbuatan itu yang pertama dilakukan? Amelia tidak secara lugas menjawab. “Ya gimana ya kaks, kalau soal itu aku gak mau cerita,” katanya.

Yang jelas katanya, dia terdesak untuk melakukan itu karena tidak ada pilihan lain.

Amelia melanjutkan, orangtuanya bekerja disebuah perusahaan swasta.

Dia anak pertama dari tiga bersaudara. “Gak berani minta sama bapak, uang segitu kan besar kak,” ucapnya.

Dalam kebingungannya karena dituduh telah mencuri uang kegiatan sekolah, seorang temannya kemudian memberitahukan cara mendapatkan uang dengan cepat.

“Awalnya ragu sih, takut saja orangnya kabur setelah gituin saya,” katanya.

Tapi karena tidak memiliki pilihan, Amelia terpaksa melakukan hal itu.

Berbekal komunikasi dengan pria tersebut, Amelia kemudian memberikan diri bertemu seusai UN.

Sebelum bertemu, Amelia lebih dulu berganti pakaian. “Kalau pakai seragam bisa ketahuan sekolah saya,” katanya sambil sesekali memperbaiki masker.

Sesampaikan di hotel yang dimaksud, mahasiswa yang dikenalnya sudah menunggu di kamar hotel.

“Perasaan campur aduk, takut, sedih macam-macam lah kak,” ucapnya. “Tapi saya janji, ini yang pertama, saya enggak akan mengulanginya lagi,” janji Amelia.

Setelah berbincang banyak, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 9 malam.

Amelia yang sejak bertemu asik bercerita, memilih untuk pulang duluan.

“Gitu aja ya ceritanya, nanti kalau masih penasaran kita bisa ngobrol lagi. Saya pulang duluan, besok masih UN soalnya,” kata Amelia sambil beranjak dari tempat duduknya. (Mastete)

620 total views, 3 views today

LEAVE A REPLY