Ini Kisah Persekongkolan Dua Mantan Istri, Melaporkan Mantan Suami

0
220

www.depoktren.com–Dua mantan istri seorang pilot sebuah maskapai penerbangan, SRK alias Ayu dan ADW alias Dewi dalam hampir waktu bersamaan mengugat sejumlah uang hak anak ke Pengadilan Agama (PA) dan mengugat harta gonogini ke Pengadilan Negeri (PN).

Laporan-laporan kerap dilayangkan kedua mantan istri sang pilot, terutama Ayu ke pihak kepolisian dan pengadilan yang dihadapi dengan gigih sang pilot dan istrinya, Tina.

“Kasusnya bertahun-tahun ngga selesai-selesai. Mungkin ada sembilan laporan yang dilayangkan ke suami saya, mulai dari menelantarkan anak hingga pembagian harta. Terutama laporan menelantarkan anak, itu jelas laporan palsu yang dikarang Dewi, pihak Komnas Anak sudah membuktikan kalau itu tidak benar,” ujar Tina kepada sejumlah awak media di Bogor, Rabu (21/3/2018).

Tina juga mengutarakan mengenai kasus pembagian harta gonogini yang berperkara dengan Ayu sudah berlangsung sejak 2011 dan sudah diputuskan PN Depok serta diperkuat dengan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Barat (Jabar) serta saat ini sedang menunggu putusan dari Mahkamah Agung dengan register 1553 K/PDT/2017.

“Di PN dan di PT kami dimenangkan, namun yang cukup lama prosesnya di MA. Bahkan muncul surat yang kami duga palsu dari Panitera MA,” terangnya.

Menurut Tina, dalam perkara tersebut, pihaknya memenangkan gugatan atas harta gonogini bernilai miliaran rupiah, dan menuntut agar penjualan rumah di Perum Nuansa Batavia, di Alam Sutera Serpong Kota Tangerang Selatan yang harusnya uangnya dibagi dua dengan sang pilot namun tidak diberikan. Sementara sang pilot telah digugat cerai oleh Ayu.

Secara hukum agama, wanita yang meminta cerai tidak mendapat pembagian harta warisan namun dapat disepakati pembagian harta dapat dibagi dua antara suami-istri.

Namun kemudian Ayu melakukan perlawanan menolak putusan PN Depok dan PT Jabar dengan melakukan banding hingga ke tingkat Mahkamah Agung (MA).

“Maka putusan PN Depok memutus mengikat para pihak artinya hasil penjualan rumah tersebut harus dibagi dua, tapi ini kan tidak dibagi yang nilainya bisa mencapai miliaran,” terang Tina.

Pilot senior, RS sebelumnya telah menikah tiga kali, yang ketiganya berujung perceraian. Tambatan hati terakhir RS kini ada di pelukan Tina yang merupakan mantan karyawan Bank of America yang 16 tahun tinggal di Amerika.

Sambil menunggu putusan MA atas perkara harta gonogini tersebut, Ayu kemudian diduga menggalang persekongkolan jahat dengan istri kedua sang pilot, Dewi dengan menuntut hak anak bernama Galih dan Andrea sepanjang 2002-2013 di Pengadilan Agama Cibinong.

Hak anak itu senilai Rp 6 juta per bulan yang kemudian dikalikan selama 11 tahun.

Kepada sejumlah awak media, Dewi mengatakan dirinya hanya menuntut hak anak bukan perkara harta gonogini. “Saya kan menuntut hak anak saya yang juga anak biologis mantan suami saya. Saya nggak menuntut yang sudah tapi yang belum dibayarkan. Sebulan 6 juta dikalikan 11 tahun, anda hitung saja sendiri berapa itu,” terang Dewi saat dijumpai usai mengikuti sidang di Pengadilan Agama Cibinong, Selasa 13 Maret 2018 lalu.

Ini adalah sidang kedua perkara bantahan atas putusan eksekusi penetapan kedua yang materinya serupa, yakni menuntut hak nafkah anak. Meskipun di tahun tersebut RS sudah menikah dengan Ayu.

“Seharusnya di tahun tersebut Dewi menuntut ke Ayu karena saat itu Pak RS, suami saya sekarang adalah suami Ayu. Lho kok sekarang malah justru menuntut lagi ke Pak RS. Lagipula gaji Pak RS sudah setiap bulan sampai hari ini terus dipotong untuk menafkahi Galih dan Andrea. Dewi selaku ibunya Galih dan Andrea juga sudah menikah lagi dengan laki-laki lain,” tutur Tina.

Tina juga mengaku heran bahwa kasus nafkah anak kini digugat lagi di PA Cibinong meskipun sebenarnya perkara ini sebelumnya sudah pernah diputus di PA Tangerang.

“Penetapan pertama di PA Tangerang, putusan sudah dijalankan. Kini muncul lagi penetapan kedua di PA Cibinong perkara bantahan, bukan soal anak kandung dan ibu tiri, yang diminta ibu Dew. Ibu sudah menikah ya satu minta nafkah ke suami pertama. Mediasi minta hak bukan minta duit. Kalau mau minta hak ngga usah ribut di pengadilan kan bisa bicara baik-baik,” tutur Tina.

Tina juga meminta agar Ayu dan Dewi tidak bermain-main dengan hukum dengan melakukan berbagai dugaan tindak pidana yang diduga ada unsur perbuatan menyenangkan dan unsur pemerasan. “Nanti, saya akan gugat balik Ayu dan Dewi. Kami sudah punya buktinya dan kami tidak takut meskipun Ayu didukung oleh Anggota DPR,” tantang Tina penuh emosi.

Sebelumnya ada pemberitaan yang menyebutkan bahwa perkara di PA Cibinong ada upaya membatasi pertemuan antara anak dan bapaknya. Tina membantah tegas pemberitaan itu.

“Berita itu penggiringan opini yang tidak benar. Saya tidak pernah menghalangi anak ingin bertemu bapaknya. Bohong itu, tidak benar. Secara kebiasaan tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi anak ketemu bapaknya. Secara hukum, kecuali perintah pengadilan hanya keputusan hakim. Ini berita pembodohan dan pembohongan publik. Berita hoax. Secara pidana masuk kategori pencemaran nama baik dan dia harus buktikan secara hukum dan agama,” tegas Tina. (Her/Mul/Rus)

222 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY