Semalaman Kesasar di ‘Surga Benua’ Hotel Alexis

0
594

Semalaman Kesasar di ‘Surga Benua’ Hotel Alexis

Oleh: Rusdy Nurdiansyah

Hentakan berdegum electronic dance music (EDM) yang cukup memekakkan telinga bergema saat menginjakkan kaki di lounge berlabel 4Play Club, yang terletak di sisi kiri lobi Hotel Alexis, di Jalan RE Martadinata Nomor 1, RT 6 RW 4, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Sabtu (21/10) pukul 20.00 WIB.

Tak pernah dengar genre EDM, tapi lama-lama asyik juga dengan siraman cahaya lampu sorot dan warna warni menghiasi ruangan yang semakin semarak dengan banyaknya bidadari-bidadari cantik, seksi nan menantang bahkan nyaris telanjang berlengak-lengok di atas stage pertunjukkan berukuran 10×10 m2.

Pengunjung baik pria maupun perempuan-perempuan cantik menikmati dan mengikuti irama EDM di malam minggu itu terus bergema dengan lagu-lagu populer seperti lagu The Weekend Feuturing Daft Punk, lagu 24K Magic dari Bruno Mars dan How Deep Is Your Love dari Calvin Harris serta lagu Deposito dari Justin Bieber yang cukup apik di olah synthesizer, midi keyboard, turntable, mixer, bass oleh disc jockey (DJ).

Tak hanya para seksi dancer yang menyemanganti para pengunjung berjoget ria, tapi juga diselingi tarian telanjang (striptease) dari hampir 20 penari wanita cantik dari berbagai negara yang tampil bergantian, mulai dari penari wanita Indonesia, Thailand, China, Rusia, Uzbekistan dan Amerika Latin.

Tapi rasanya menikmati musik EDM tak semarak tanpa mencicipi sebutir inex. Keseruan dan mirip kesurupan para pengunjung pun menggila berjoget diiringi dentuman musik EDM. Narkoba jenis inex atau ekstasi dengan mudah didapat dan ditawarkan di dalam club yang dengan sorotan lighting yang cukup megah seirama dentuman musik EDM.

Untuk memasuki lounge 4Play Club yang berkapasitas kurang lebih 1.000 orang ini, pengunjung dikenakan tiket masuk Rp 100 ribu, hanya berdiri. Untuk mendapat bangku, pengunjung harus merogoh kocek Rp 2 juta sebagai deposit pemesanan minuman keras (miras).

Tak hanya meliuk-liuk di atas panggung, para penari telanjang menghampiri dan berkeliling ke para pengunjung, merayu untuk disentuh bagian tubuhnya dan memegak miras yang disuguhkan, tentu dengan sejumlah imbalan uang alias uang tip, sebesar Rp .100 ribu hingga Rp 500 ribu.

Sebanyak empat petugas keamanan berpakaian safari serba hitam ‘mengawasi’ gerak-gerik saya bersama dua orang rekan karena begitu agresif menikmati musik EDM yang cukup apik dimainkan para DJ wanita yang berpakain sangat minim.

Namun, kedua teman saya ‘cuek bebek’ terus berjoget sambil memeluk wanita-wanita lokal seksi yang kami dibooking per jam nya Rp 100 ribu.

Tarian bugil cukup heboh tampil saat waktu menunjukan pukul 24.00 WIB. Tarian bugil tersebut memperagakan adegan sex penari wanita dan pria. Pertunjukan tersebut berakhir hingga Minggu pukul 02.00 WIB.

***

Namun, kami lupakan dulu menikmati surga bidadari-bidadari menari telanjang di 4Play Club. Kami ingin melihat ‘dunia lain’ di lantai 7 untuk menikmat bidadari-bidadari kelas dunia serta bidadari lokal yang tak kalah dengan para artis atau peragawati cantik Indonesia. 

Wajah cantik, wangi, rambut terurai indah dan tubuh yang ideal serta proporsional dengan tinggi rata sama diatas 167 cm itu, berseliweran dihadapan kami, ada yang berbikini, ada yang pakai kimono, bahkan ada yang tak sehelai benangpun menutupi tubuh langsing, putih dan mulus.

Ada wanita yang sedang berendam, dan di sauna atau sedang memijat para lelaki. Selain musik merdu nan lembut bergenre melow How Deep Is Your Love dan I Need Your Love dari Calvin Harris, serta lagu This Is My Life dari Edward Maya semakin menambah suasana romantis yang semakin membuat ‘pikiran melayang jorok’.

Tentu, kami terperangah bercampur nafsu birahi melihat pemandangan di tempat yang dilengkapi dua kolam berenang air dingin dan air hangat, serta dua sauna. Tersedia juga delapan gazebo yang masing-masing gazebo dilengkapi dua sofa, sebuah meja, dan tirai. Terdapat juga puluhan kursi selojor untuk hanya sekedar beristirahat seusai melakukan aktivitas berenang dan bersauna sambil bersenda gurau.

Terdapat juga sebuah meja bar, yang seperti raja, kami pun dilayani dengan ramah oleh para waiters cantik untuk menawarkan makan dan minuman serta tentunya minuman keras bermerk dengan harga termurah Rp 1,3 juta per botol. 

Saat sedang rileks di gazebo, kami pun ditawarkan untuk spa atau pijat yang katanya untuk merenggangkan otot-otot yang kaku. “Kalau mau spa, silahkan? Pakai dulu gelang ini,” pinta seorang waiters cantik yang membuat rekan saya, seperti biasa langsung ‘celamitan’ memandang dan merangkul waiters tersebut, sebut saja namanya Ika. 

Lalu kami pun diberikan gelang berwarna merah dengan tertera nomor tertentu untuk dikenakan dilengan. Gelang itu dilengkapi chip untuk membuka loker, sekaligus dijadikan identitas tamu saat penagihan atas layanan spa yang diberikan. 

Setelah memakai gelang, kami pun diminta memilih bidadari-bidadari semampai yang merupakan produk lokal. Mereka pun berbaris teratur sambil mengucapkan salam. Tentu kami tercengang, bingung memilihnya. Dengan tutup mata aja, kami pilih pasti wanita yang terpilih cantik dan tak mengecewakan.

Setelah itu muncul puluhan wanita berwajah Cina, Thailand, Uzbekistan, Rusia bahkan Amerika Latin berbaris dihadapan kami dengan hanya menggenakan bikini. Tanpa basa-basi, rekan saya yang lainnya memilih wanita Uzbekistan. 

***

Dipandu seorang waiters, kami melewati loker untuk mengganti pakaian dan ke toilet, kemudian menuju sebuah lorong. 

Seorang mami, sebut saja namanya Laras, menjelaskan secara terperinci tarif layanan spa para bidadari tersebut.

Untuk perempuan lokal atau asal Indonesia, tarifnya Rp 1,45 juta per sekali kencan. Durasinya sekitar satu jam. Sedangkan untuk perempuan ‘impor’, tarifnya bervariasi. Untuk perempuan asal Thailand, Uzbekistan, Rusia, dan Kolombia, harganya Rp 2,45 juta. Yang paling mahal adalah perempuan asal China, yang dipatok Rp 2,7 juta per sekali kencan. Jika ingin kencan diluar biaya kamar dipatok harga Rp 200 ribu per jam.

Saya yang tak ikut spa, lebih memilih dua wanita Indonesia yang hanya menggenakan daster seksi, sebut saja namanya Cindy (20) dan Kania (21) untuk sekedar berbincang-bincang dengan tarif Rp 200 ribu per jam.

Cindy dan Kania mengaku sudah setahun ini bekerja di Alexis. Cindy tinggal di sebuah apartemen yang disewa oleh bosnya. Ia dan beberapa teman seprofesi tidak diperbolehkan keluar dari apartemen kecuali kalau mau ‘bertugas’, yang dimulai pukul 09.00 WIB pagi hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Dan di akhir pekan, jam kerja bertambah hingga pukul 04.00 WIB dini hari.

Sedangkan Kania seorang model yang juga berstatus mahasiswi bercerita, kalau ingin ‘bercumbu’ bisa ke kamar hotel. Kamar itu berada di lantai lima dengan biaya sewa kamar Rp 200 ribu. 

“Kalau para wanita asing itu, juga semuanya tinggal di apartemen yang dikelola seorang bos dan memilki beberapa mami. Sedangkan para wanita lokal ada juga yang masih pelajar, mahasiswa dan model,” tutur Kania. 

Setelah cukup puas menikmati malam.dengan ‘suasana birahi’, kami pun beranjak. Sebelum turun melalui lift, kami menuju kasir tempat pengunjung membayar tagihan dengan menyerahkan gelang. Jika belum mengantongi bukti pembayaran, maka tamu Alexis tak diberi akses untuk menggunakan lift.

Anehnya, struk tagihan berlogo Alexis yang keluar dari print komputer tak langsung diserahkan kasir. Kasir mengganti struk itu dengan selembar kuitansi yang nilai tagihannya disalin dari struk. Kasir itu pun tak memberi penjelasan terkait proses pembayaran yang tidak lazim tersebut.

***

Rasa lapar melanda perut kami, untuk itu, kami diarahkan ke lantai 2 yang tersedia restoran mewah dengan menu Indonesia, Eropa, maupun China. Setelah menikmati makanan, kami ke lantai 3 yang terdapat sejumlah ruangan karaoke, yang buka pada Senin-Sabtu pada pukul 13.00-05.00 WIB dini hari. Lantai 3A dan 5 juga terdapat ruang karaoke, bar dan tempat duduk-duduk wanita cantik pemandu lagu.

Ruang-ruang karaoke ada beberapa tipe ditawarkan, tipe terbesar yakni ruang karaoke yang dilengkapi kamar tidur, kamar mandi, kamar makan dan tentunya ruang karaoke yang cukup besar dan dapat bernyanyi dan berjoget untuk kapasitas 50 orang.

Karaoke sebesar itu dipatok harga Rp 5 juta per paket, diluar tarif wanita pemandu lagu dengan tarif Rp 200 ribu per jam. Biaya tambahan akan dikenakan jika ada pemesanan makanan dan minuman keras.

Tentu pesta seks bisa juga dilakukan di ruang karaoke baik dengan wanita pemandu lagu yang cantik diatas rata-rata atau memesan wanita asing dari benua lain.

Demikian kami, semalaman kesasar di ‘surga benua’ wisata Hotel Alexis, sebelum benar-benar akan ditutup Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Tapi, sebenarnya tak hanya Hotel Alexis yang berbisnis wisata prostitusi dan narkoba terselubung, terutama di kawasan seputar Mangga Besar, Kawasan Kota. Diantaranya Hotel Malioboro, Hotel Emporium, Hotel Colosseum and 1001, Tease Club, Hotel Fashion, Hotel Jayakarta Club 36, Hotel Classic, Zen Club, Hotel Sand, dan Hotel IIegals.

Penulis:
Wartawan Senior
Ketua Dewan Pembina Depok Media Center (DMC)

624 total views, 4 views today

LEAVE A REPLY