Dituduh Korupsi, Hardiman Dituntut 2 Tahun Penjara

0
198

www.depoktren.com–Mantan Kepala Bidang Jalan dan Jembatan (Jaljem) Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Depok, Hardiman dituntut 2 tahun penjara di sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (30/10/2017).

Hardiman dituduh atas dugaan kasus korupsi proyek peningkatan Jalan Raya Pasir Putih, Sawangan dalam kasus korupsi paket pekerjaan kontruksi peningkatan Jalan Pasir Putih, Sawangan, tahun 2015 lalu, senilai Rp2,7 Miliar.

Jaksa Penutut Umum (JPU), Tohom Hasiholan mengatakan, para terdakwa tidak terbukti melakukan tindakan perbuatan melawan hukum, seperti yang didakwakan dalam dakwaan primair yakni pasal 2 ayat 1 UU No. 31 tahun 1999 Jo UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Menurutnya, berdasarkan fakta persidangan yang ada, penyimpangan yang dilakukan merupakan penyalahgunaan kewenangan, yang dilakukan salah satu terdakwa atas nama Hardiman selaku KPA dan PPK, bukan merupakan perbuatan melawan hukum.

“Sedangkan dua tersangka lainnya, Enrico dan Bonar diklasifikasikan sebagai medepleger (turut serta), terhadap perbuatan penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan Terdakwa Hardiman tersebut,” ujar Tohom.

Para terdakwa terjerat pasal subsidair yakni pasal 3 UU No. 31 tahun 1999 Jo UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Adapun isi tuntutan terhadap Hardiman adalah pidana penjara selama 2 tahun, denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sementara, terdakwa Bonar pidana penjara selama 2 tahun, denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan, dan uang pengganti Rp40 juta subsider 1 tahun penjara dan terhadap terdakwa Enrico adalah pidana penjara selama 3 tahun 6 bulan, denda Rp50juta subsider 3 bulan kurungan, dan uang pengganti Rp857.763.503 subsider 2 tahun penjara. “Para terdakwa akan mengajukan pledionya pada Rabu (1/11/17),” jelas Tohom.

Awal mula kasus tersebut yakni dari hasil audit BPK ditemukan ada penyelewengan dana sebesar Rp 121 Juta dalam pengerjaan proyek tersebut, yang diduga dilakukan Hardiman bersama dua orang pelaksana proyek dari pihak kontraktor.

Hardiman ditahan Mapolresta Depok bersama dua kontraktor pelaksana pengerjaan jalan tersebut, yakni Enrico Kurniady dan Bonar Panjaitan, yang juga menjadi tersangka dalam kasus ini sejak 20 Januari 2017. (Ridwan/Papi Ipul)

199 total views, 3 views today

LEAVE A REPLY