Sebelum Ditutup, Sejumlah Wartawan Depok Menyambangi ‘Surga Dunia’ Hotel Alexis

0
340
Jpeg

www.depoktren.com–Sebelum ditutup, sejumlah wartawan Depok menyambangi sebuah tempat yang digembar-gemborkan sebagai ‘surganya dunia’ yakni di Hotel Alexis. “Biar kita buktikan, apa benar ada ‘surga dan bidadari’ di Hotel Alexis ” kata wartawan www.depoktren.com, Syaiful alias Papi Ipul, pada Jumat (20/10/2017) malam.

Sejumlah wartawan Depok langsung disambut dentuman musik techno yang cukup memekakkan telinga sebelum memasuki lobi Hotel Alexis di Jalan RE Martadinata Nomor 1, RT 6 RW 4, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. “Ngga pernah dengar musik techno, kaget juga, tapi lama-lama asyik, apalagi banyak bidadari-bidadari seksi nan menantang,” ujar Maulana, wartawan dari salah satu media online.

Sebanyak 4 petugas keamanan berpakaian safari serbahitam ‘mengawasi’ gerak-gerik sejumlah wartawan Depok tersebut yang mungkin menilai tak pantas hadir di hotel yang dilengkapi dengan metal detector. Para petugas keamanan tak tahu kalau kami adalah wartawan.

Namun, kami ‘cuek bebek’ aja sambil tetap menggoyangkan tubuh dan kepala mengikuti irama musik techno dari lounge berlabel 4Play Club, yang terletak di sisi kiri lobi Hotel Alexis.

Di klub itu, para pengunjung terlihat sangat menikmati suguhan musik dan penari seksi yang meliuk-liuk di atas panggung berukuran 4×4 meter. Pada hari-hari tertentu, kabarnya, para penari-penari cantik tersebut tampil tanpa mengenakan sehelai benang pun alias bugil.

Namun kami lupakan dulu 4Play Club karena tujuan kedatangan kami adalah melihat suasana di lantai tujuh Alexis, yang disebut-sebut sebagai ‘surga dunia dengan bidadarinya’ yang sudah bukan rahasia umum lagi dan sudah menjadi pergunjingan publik.

Petugas keamanan terus mengintai kami saat menaiki lift menuju lantai 7. Senyuman gadis-gadis cantik langsung menyambut para wartawan dengan ruangan
bernuansa kehitaman.

“Mau ke tempat spa, ya? Silakan pakai dulu ini,” pinta seorang resepsionis cantik yang membuat Papi Ipul, seperti biasa langsung ‘celamitan’ memandang dan merangkul resepsionis bernama Ika. Lalu kami pun diberikan gelang berwarna merah dengan tertera nomor tertentu untuk dikenakan dilengan.

Gelang itu dilengkapi chip untuk membuka loker, sekaligus dijadikan identitas tamu saat penagihan atas layanan yang diberikan. Setelah memakai gelang dan menuju area berendam, sauna dan spa. Ada juga meja bar dan loungeyang dipandu dua waitress nan cantik.

Setelah melewati loker untuk tamu yang ingin mengganti pakaian dan ke toilet, kemudian menuju sebuah lorong. Di ujung lorong itu terlihat sejumlah perempuan cantik berpakaian seksi laksana bidadari berlalu lalang dengan pakaian ‘super minim’ alias nyaris bugil. Mereka berjalan berbaris mengikuti seseorang yang diketahui sebagai muncikari.

Menariknya, perempuan-perempuan cantik yang ada di situ bukan hanya berasal dari Indonesia. Perempuan berwajah Oriental, melayu, Cina, Eropa Timur, bahkan Amerika Latin pun ada.

Pada saat-saat tersebut, seorang perempuan bernama Laras berusia sekitar 30 tahun, yang parasnya tak kalah jelita, mendekati kami. “Baru datang, ya? Silakan ikuti saya,” ucap perempuan yang mengenakan pakaian blazer hitam yang seksi dan menantang birahi.

Lalu kami diajak ke sebuah sudut bangunan yang di sana terdapat gazebo berjumlah delapan unit. Masing-masing gazebo dilengkapi dua sofa, sebuah meja, dan tirai.

***

Mami Laras, begitu disapanya, juga tak tahu kalau kami adalah wartawan, kemudian mempersilakan duduk. Tak lama berselang, ia berpamitan dengan alasan ingin ‘menyiapkan anak-anak’. Sambil menunggu datangnya minuman yang kami pesan, mata kami menyapu seluruh isi ruangan dari balik tirai gazebo.

Terlihat banyak wanita-wanita telanjang berseliweran, sedang berendam, dan di sauna atau sedang memijat para lelaki. Selain musik merdu nan lembut terdengar juga suara tertawa manis dari para bidadari cantik semakin membuat ‘pikiran melayang jorok’.

Beberapa menit kemudian, Laras muncul kembali menjelaskan secara terperinci tarif layanan seks perempuan yang menjadi anak buahnya.

Untuk perempuan lokal atau asal Indonesia, tarifnya Rp 1,45 juta per sekali kencan. Durasinya sekitar satu jam. Sedangkan untuk perempuan ‘impor’, tarifnya bervariasi. Untuk perempuan asal Filipina, Thailand, Vietnam, Uzbekistan, Rusia, dan Kolombia, harganya Rp 2,45 juta. Yang paling mahal adalah perempuan asal China, yang dipatok Rp 2,7 juta per sekali kencan. Jika ingin kencan diluar biaya kamar yang dipatok Rp 200 ribu per jam.

Begitu kalimat order didengarnya, Mami Laras langsung sigap menggelar kontes di gazebo yang kami tempati. Sekitar 20 perempuan dengan gaun malam menggoda dalam sekejap berdiri berjajar rapi. Kami pun memilih perempuan Indonesia agar lebih gampang mengorek keterangan tentang aktivitas mereka di sana, tapi Papi Ipul justru memilih wanita bule asal Rusia bernama Ana. Sedangkan sejumlah wartawan lainnya membooking wanita lokal yang tak kala cantik, tinggi sampai, berkulit putih dan mulus yakni Cindy, Dewi dan Clara.

Cindy mengaku sudah setahun ini bekerja di Alexis. “Saya asal Jakarta. Sudah setahunan kerja di sini,” ujar Cindy sambil melempar senyum nan menggoda. Cindy terlihat sangat rileks dan berpengalaman menghadapi tamu laki-laki.

Cindy, Dewi dan Clara mengaku berusia 20, 23 dan 25 tahun
Mereka mengungkapkan, sehari-hari ia tinggal di sebuah apartemen yang disewa oleh bosnya. Ia dan beberapa teman seprofesi tidak diperbolehkan keluar dari apartemen kecuali ‘bertugas’, yang dimulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Dan di akhir pekan, jam kerja bertambah hingga pukul 04.00 WIB.

Di tengah-tengah obrolan itu, tiba-tiba Cindy memperkenalkan seorang temannya yang berasal dari Kolombia. “Ini, kenalin, namanya Sania.

Papi Ipul langsung menyambar Sania yang terlihat begitu menawan dengan balutan busana malam berwarna pink yang ketat. “Halo, selamat malam,” sapanya dengan bahasa Indonesia sedikit kaku. Namun percakapan dengan Sania tak bisa lama karena ia harus ikut kontes di meja tamu yang lain.

Perbincangan dengan Cindy berlangsung sekitar setengah jam. Cindy mulai memperlihatkan raut wajah bosan. Beberapa kali ia melontarkan rayuan agar segera beranjak ke kamar hotel. Kamar itu berada di lantai lima. Untuk masuk ke kamar hotel, resepsionis di lantai 5 masih memungut uang Rp 200 ribu.

Setelah cukup mengetahui adanya fenomena transaksi seks di Hotel Alexis, kami pun beringsut dari ‘lantai surga’. Sebelum turun melalui lift, kami menuju kasir tempat pengunjung membayar tagihan dengan menyerahkan gelang. Jika belum mengantongi bukti pembayaran, maka tamu Alexis tak diberi akses untuk menggunakan lift.

Anehnya, struk tagihan berlogo Alexis yang keluar dari print komputer tak langsung diserahkan kasir. Ia mengganti struk itu dengan selembar kuitansi yang nilai tagihannya disalin dari struk. Kasir itu pun tak memberi penjelasan terkait proses pembayaran yang tidak lazim tersebut.

Namun tanda bukti pembayaran di lantai 7 itu bisa dipakai untuk masuk ke 4Play Club secara gratis. Apabila tidak mempunyai ‘tiket’ gratis tersebut, maka pengunjung biasanya dikenai biaya Rp 100 ribu untuk sekali masuk. Informasi yang kami terima dari seorang pelayan di klub, pada hari-hari tertentu ada pertunjukan tarian striptease dan sex show di klub itu. Jika ingin open table di 4Play Club, pengunjung dikenai minimum payment Rp 2 juta.

***

Di Hotel Alexis, di lantai 2 tersedia restoran mewah dengan menu Indonesia, Barat, maupun China, yang buka hanya pada Sabtu dan Minggu. Di lantai 3 terdapat sejumlah ruangan karaoke, yang buka pada Senin-Sabtu pada pukul 13.00-05.00 WIB. Lantai 3A dan 5 juga terdapat ruang karaoke serta bar.

Demikian pertulangan ke ‘surga dunia’ Alexis yang cukup seru dan melampiaskan syawat, sebelum benar-benar akan ditutup Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan. (Papi Ipul/Maul)

340 total views, 5 views today

LEAVE A REPLY