Petuah Kisah Hang Tuah di Tanah Depok

0
79

www.depoktren.com–Lagu Melayu mendayu-dayu didendangkan syahdu oleh penyanyi asal Tanah Baru Kota Depok, Laila Yusuf. Ruangan gelap-gulita, tapi panggung menyala-nyala dengan lighting yang ditata oleh Aninditya Satriawan. Begitulah suasana Rumah Seni Asnur di kawasan Tanah Baru, Beji, Depok, yang sedang mengadakan pentas kesenian dan kebudayaan, Operet Hang Tuah, pada Sabtu (15/4/2017) sore yang mendung.

Panggung kecil yang tersedia di ruang teater Rumah Seni Asnur, dibuatkan sebuah set singgasana Raja Melayu, bentangan layar putih untuk menampilkan video background, dan sebuah podium untuk sambutan. Telah disediakan pula seratus kursi bagi para penikmat seni dan kebudayaan.

Satu-satu menampilkan sambutannya seperti Asrizal Nur selaku sutradara sekaligus pemeran sebagai Sultan, Achmad Syam Arrazi sebagai pimpinan produksi, Ir. Nuroji sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Depok, dan sejumlah tokoh lain yang berkaitan dengan dunia seniman.

Operet pun dimulai dari kemarahan Sultan pada Hang Tuah yang dilimpahkannya pada para Hulubalang. Dua Hulubalang yang diperankan oleh Ahmad Adi Putra dan Rizki Nanda tersebut diperintahkan Sultan untuk mencari Datuk Bendahara guna menghabisi nyawa Hang Tuah yang diamuk Sultan karena fitnah keji semata.

Menghadaplah dua Hulubalang Sultan membawa serta Datuk Bendahara yang diperankan oleh penyair Jimmy S Johansyah. Diutarakanlah keinginan Sultan untuk membunuh Hang Tuah pada Datuk Bendahara. Mengingat jasa Hang Tuah yang begitu besar pada Tanah Melayu, Datuk Bendahara menentang Sultan. “Seorang Sultan tidak boleh membuat keputusan dalam keadaan murka!” kata Datuk Bendahara. Tetapi keinginan Sultan keras, Hang Tuah harus dibunuh.

Datuk Bendahara bimbang, ia tidak ingin menghabisi nyawa Hang Tuah hanya sebab fitnah semata. Dalam adegan Datuk Bendahara yang bimbang bersama Hulubalang 1 yang diperankan Ahmad Adi Putra atau Songgol, dibubuhilah sedikit sentuhan humor oleh prilaku dan gesture Hulubalang 1 yang berpostur gempal tersebut, penonton tergelitik sekaligus kagum melihat aksinya.

Tibalah adegan Mak Long, Hang Lekiu, dan Hang Jebat yang masing-masing diperankan oleh Wiwiek Elias, Muzigandi Muzdar, dan Sa’id Rega Syahringga. Mang Long menangis mendengar anaknya Hang Tuah tewas dibunuh Sultan. “Yang Mak sedih bukanlah kematian Hang Tuah, tetapi karena masih adanya fitnah di negeri ini,” kata Mak Long berucap sedih.

Sedangkan Hang Lekiu dan Hang Jebat yang merupakan sahabat Hang Tuah marah besar. Hang Jebat bersikukuh ingin membunuh Sultan dan kaki tangannya demi membalas kematian Hang Tuah. Hal tersebut ditentang oleh Hang Lekiu dan Mak Long. Tetapi seperti Sultan, tekad Hang Jebat menghabisi orang-orang istana sudah bulat.

Perpecahan dan pertumpahan darah pun tak bisa terelakan lagi oleh sebab satu musabab. Adalah fitnah. “Pesan kisah Hang Tuah ini yang pertama adalah fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Lima orang sahabat (;Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu) yang tadinya kompak dengan Sultan difitnah oleh Patih Karmawijaya. Akhirnya kerajaan menjadi hancur lebur karena fitnah itu. Dan, fitnah itu masih ada hingga sekarang,” terang Asrizal Nur.

Menurut legenda Melayu, Hang Tuah merupakan sosok pahlawan dan tokoh legendaris Melayu pada masa pemerintahan Kesultanan Malaka. Karena menjadi kesayangan Sultan, para petinggi istana iri dengan Hang Tuah dan dilancarkanlah serangan fitnah bahwa Hang Tuah telah berzinah dengan pelayan Sultan. Kemudian terbitlah perintah Sultan untuk membunuh Hang Tuah.

Singkat cerita, Hang Tuah ternyata tak dibunuh melainkan disembunyikan oleh Datuk Bendahara, namun terlambat, kerajaan telah porak-poranda karena amukan Hang Jebat. Sultan kemudian menyesal telah menerbitkan perintah untuk membunuh Hang Tuah, sebab hanya Hang Tuah yang berani meredam amukan Hang Jebat sekaligus melumpuhkannya.

Di akhir kisah tragis tersebut, Hang Jebat harus mati di tangan sahabat dekatnya sendiri, Hang Tuah. Usai pertempuran sengit antara dua sahabat itu, Hang Tuah menghilang. Di pentas ini, Hang Tuah diperankan oleh Ariandri Putra.

Seperti sumpah yang pernah dibunyikan Hang Tuah dalam Sulalatus Salatin, “Tak akan Melayu hilang di bumi,” begitulah adanya kini. Melayu tak hilang dan tak akan hilang apabila kebudayaan tersebut dirawat, dilestarikan, dan disiarkan lewat pentas-pentas kesenian yang ada. Sebab kebudayaan, kata Asrizal Nur, merupakan pembeda kita masyarakat Indonesia dengan bangsa lainnya. Kebudayaan, lanjut dia, adalah ciri. (Siska)

374 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY