Kesenian dan Kebudayaan Kota Depok yang Kekurangan Lampu Sorot

0
69

www.depoktren.com–Sebuah kota dicirikan dari kebudayaan yang menempel di tubuhnya, laiknya identitas. Begitu, yang dipaparkan Jimmy S Johansyah, penyair asal Kukusan Beji, Depok, yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Seni Depok.

“Kota itu disorot dari kebudayaannya, di situ kita bisa mencirikan sebuah kota. Kota akan memiliki sidik jari ketika kebudayaannya berkembang,” tutur Jimmy menjelaskan seberapa penting budaya terhadap perkembangan sebuah kota.

Penyair yang telah berkelana dan bermarkas di Rumah Seni Asnur, Beji, tersebut mengaku iri ketika melihat kota-kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, dan Makassar bertabur acara kesenian dan kebudayaan. “Itu yang membuat kita iri, padahal Depok ini tempat tidurnya para seniman internasional dan nasional,” ungkap Jimmy.

Menurut dia, sebenarnya Pemerintah Kota (Pemkot) Depok sadar akan pentingnya mengangkat kebudayaan kota dengan menggelar berbagai acara pentas seni seperti yang dilakukan kota-kota yang telah disebutkan tadi.

“Tapi mungkin karena ada berbagai macam faktor x yang kita tidak tahu apa, sehingga kesenian dinomor duakan. Dan itu kesalahan besar bagi sebuah kota yang sedang berkembang seperti Depok,” imbuh Jimmy.

Ia mengatakan untuk menggugah gairah akan kesenian dan kebudayaan, Kota Depok memerlukan penggerak kesenian yang mampu menjadi motor, dan tentu saja peran dari pemerintah. “Depok masih perlu penggerak kesenian yang mampu menjadi motor atau agen kebudayaan. Dan tentu saja, peran pemerintah itu diperlukan sekali.”

Sebab, kata Jimmy, kesenian merupakan daya hidup masyarakat. “Tanpa kesenian, reliji dan lini-lini kehidupan lainnya itu tidak akan berjalan dengan baik,” tutup penyair yang telah menerbitkan sejumlah buku antologi puisi seperti Cahaya Titis yang diterbitkan 2014 lalu oleh Yayasan Panggung Melayu. (Siska)

176 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY