Ngobrolin Betawi di Depok

0
32

www.depoktren.com–Ada sebuah diskusi budaya sederhana di Komunitas Bambu, Jalan Taufiqurahman, Beji Timur, Kota Depok, Minggu (19/3) sore. Obrolan sore itu mengangkat sejarah kultur Betawi yang kini bisa dikatakan mulai luntur karena mengalami pergeseran sebab teknologi dan pembangunan yang pesat.

Diskusi hangat di tengah gerimis sore itu mengisahkan tentang sejarah orang Betawi di Batavia, hilangnya kampung-kampung Betawi pasca 1960-an, kultur Betawi yang mulai meluntur, hingga situs-situs sejarah yang masih ada hingga yang dilenyapkan begitu saja oleh pembangunan.

“Nasib orang Betawi dulu jadi budak, kagak boleh masuk Batavia. Perbulan dilelang dah tuh siapa yang mau jadi tuannya. Karena pas jaman kompeni dulu, yang banyak di Batavia itu orang Arab, Tionghoa, Eropa, itu demi keuntungan kompeni saja,” kisah Arkeolog UI Candrian Attahiyat yang akrab disapa Pak Can.

Dulu sebelum tahun 1900-an, kisah Pak Can, hanya ada lima kampung di Batavia. Kemudian bertambah lagi menjadi 70 kampung, bertambah lagi di 1906, hingga di tahun 1945 hampir semua kebun dan rawa di Batavia adalah perkampungan. “Di tahun 1960, Batavia menjadi kampung besar yang multi etnik,” tutur Pria yang lahir di Kampung Koja, Tanjung Priok.

“Setelah tahun 1960, banyak kampung dibongkar karena buat bikin Stadion Senayan. Gedung DPR tuh, tadinya adalah kampung. Pembangunan-pembangunan yang ada menggusur kampung-kampung, setelah 1966 mulailah kampung hampir habis. Kampung yang besar dijadikan Kota. Memang kampung Betawi sudah hampir habis secara fisik, tetapi secara kultur masih ada.”

Pak Can juga bicara soal kultur Betawi yang masih ada tetapi mulai luntur. Mulai dari tradisi rumah tanpa pagar, tradisi mengaji di langgar, hingga ke cara masyarakat Betawi menyunati anak laki-laki dengan menggunakan bambu atau bengkong. “Dulu tahun 1905-an, kampung ciri khas Betawi itu kagak pakai pagar. 

Terus muncul Undang-Undang Agraria tahun 1960, mulai dari situ baru pada pakai pagar. Orang jadi mengenal privasi, dan ini menumbuhkan jiwa individualitas.”

Menurut dia, lunturnya kultur ini disebabkan oleh pesatnya pembangunan dan teknologi. “Kelompok Betawi tergeser karena teknologi dan pembangunan. Oleh sebab itu maka kita, masyarakat Betawi, komunitas pecinta Betawi, harus menyiasati ini. Kita kenalkan lagi, kita hidupkan terus, kita sama-sama berjuang soal ini,” pungkas salah satu pembicara Diskusi Betawi Kita ke-17 tersebut.

Acara diskusi budaya kali ini dihadiri oleh sejarawan JJ Rizal, Arkeolog UI dan Tim Cagar Budaya DKI Jakarta Candrian Attahiyat, Wakil Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi Yahya Adi Saputra, dan Jawara Penjaga Sungai Jakarta Haji Chaerudin atau akrab disapa Babe Idin. Diskusi Betawi Kita pun, menurut sumber dari situsbetawikita.id, selalu diadakan setiap bulan di minggu ke-dua. (Siska)

 

148 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY